Senin, 31 Januari 2011

Teori Kepribadian, Alfred Adler



Seperti Freud, Alfred Adler juga lahir di Austria, 14 tahun setelah Freud - pada tahun 1870. Ia memperoleh gelar dokter pada tahun 1895. Setelah periode singkat sebagai dokter mata, dia berlatih psikiatri, bergabung dengan Freud lingkaran Wina dari perusahaan asosiasi. Adler sangat independen bahkan seorang pemberontak, Adler memisahkan diri dari Freud setelah 10 tahun dan memulai gerakan psikoanalitiknya sendiri, yakni Individual Psychology.

Kontribusi Adler telah mengalami nasib ironis. Banyak dari apa yang dia katakan telah menjadi begitu luas diterima, dan tampak masuk akal, yang telah dimasukkan ke dalam ide-ide dan istilah sehari-hari, kebijaksanaan biasa yang kita miliki tentang psikologi intuitif. Beberapa konsep-konsep ini begitu umum. Namun demikian, popularitas ide-ide Adler membuat mereka sedikit berbeda, mereka tetap penting, bahkan dalam pemikiran kontemporer tentang kepribadian.

Hal ini sering dikatakan bahwa setiap teori kepribadian menangkap kepribadian terbaik dari teori yang dibuat. Masa kanak-kanak Adler sendiri ditandai dengan penyakit kronis dan bermusuhan dengan lima saudara kandungnya. Menariknya, kedua tema – tubuh yang lemah - tidak berdaya, dan persaingan saudara - menjadi konsep sentral dalam teorinya. Bagi Adler, manusia itu lahir dalam keadaan tubuh yang lemah, tak berdaya. Kondisi ketidakberdayaan itu menimbulkan perasaan inferiorita dan ketergantungan kepada orang lain. Kerentanan biologis ini menjadi akar keadaan psikologis yang bertahan dalam diri seseorang dan yang sentral dalam teori Adler; perasaan rendah diri.

Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh satu dorongan utama – dorongan untuk mengatasi perasaan inferior & menjadi superior. Jadi tingkah laku ditentukan utamanya oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan dan harapan kita. Didorong oleh perasaan inferior, dan ditarik keinginan menjadi superior, maka orang mencoba hidup sesempurna mungkin.

Inferiorita bagi Adler berarti perasaan lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Bukan rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, walaupun ada dua unsure membandingkan kemampuan khusus diri dan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Superiorita, pengertiannya mirip pengertian transendensi sebagai awal realisasi diri Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow. Soperiorita bukan lebih baik disbanding orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju superiorita berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik – menjadi semakin dekat dan semakin dekat dengan tujuan final.

Perasaan inferiorita ada pada semua orang, karena manusia mulai hidup sebagai makhluk yang kecil dan lemah. Sepanjang hidup, perasaan ini terus muncul ketika orang menghadapi tugas baru dan belum dikenal yang harus diselesaikan. Perasaan ini justru menjadi sebab semua perbaikan dalam tingkah laku manusia. Anak yang belajar bermain skate merasa inferior sampai ia betul-betul mahir. Orang tua yang mendapat promosi merasa inferior pada posisi barunya sampai dia memahami bagaimana menangani tugasnya. Setiap tugas baru memunculkan inferiorita yang dapat diredakan ketika orang itu mencapai tingkat berfungsi yang lebih tinggi.

Kondisi-kondisi khusus seperti kelemahan organic/cacat, pemanjaan dan pengabaian – mungkin dapat membuat orang mengembangkan kompleks inferiorita (inferiority complex) atau kompleks superiorita (superiority complex). Dua kompleks ini berhubungan erat. Kompleks superior selalu menyembunyikan – atau kompensasi dari – perasaan inferior, sebaliknya kompleks inferior sering menyembunyikan perasaan superiorita. Misalnya, orang yang congkak dan sombong dan berusaha menguasai orang lain yang dalam hal tertentu lebih lemah darinya, mungkin menunjukan kompleks superiorita. Sesungguhnya, orang itu justru tersiksa dengan perasaan tidak mampu, tetapi dengan cara tertentu menarik perhatian dan mendorong orang lain mengitarinya, agar dia dapat berlagak superior. Orang yang terus menerus depresi dan takut mungkin mengembangkan alas an untuk tidak berusaha maju dan karena itu dapat memperoleh layanan special dari orang lain. Orang ini mungkin sebenarnya merasa barhak atas layanan itu karena adanya perasaan superioryang tersembunyi dan keyakinan bahwa semua kesulitan itu sesungngguhnya bukan karena salahnya.

Referensi : Alwisol (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar