Minggu, 29 Januari 2017

Fiksionalisme- Teori Alfred Adler dalam Novel Sang Pemimpi









"Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!! Tanpa mimpi orang seperti kita akan mati”

Arai kepada Ikal
Dalam buku Sang Pemimpi

Arai adalah salah satu tokoh dalam buku Sang Pemimpi (tetralogi Laskar Pelangi) yang sangat menarik perhatian saya. Di buku ini, Andrea Hirata menyogohi kita sosok Arai, si Simpai Keramat (anak sebatang kara) yang diasuh oleh keluarga Ikal sejak kelas 4 SD. Arai yang percaya bahwa rayuan gombalnya dapat menaklukkan hati Zakiah Nurmala. Arai yang juga percaya bahwa semangat belajar dan kerja kerasnya dapat membawa ia menuntut ilmu hingga  ke Perancis. Andrea Hirata menggambarkannya sebagai anak yang pantang menyerah. Maka ketika ikal nyaris menyerah dengan cita-cita mereka. Arai meyakinkannya, bahwa mereka akan mampu mewujudkan impian mereka.

Di dalam cerita “Sang Pemimpi” Ikal dikisahkan nyaris menyerah ketika ia mencoba untuk bersikap realistis. Ia melihat fakta yang ia jalani saat itu dan mulai membayangkan bahwa masa depan mereka tidak akan jauh berbeda. Setelah tamat SMA mereka hanya akan menjadi pendulang timah, ataupun kuli. Ikal mulai pesimis, semangat belajarnya tidak lagi sama. Hingga akhirnya nilai-nilai sekolahnya pun anjlok. Sementara Arai, entah kita sebut sebagai orang yang berfikiran positif atau kita sebut pemimpi di siang bolong. Anak SMA dari kampung yang bekerja paruh waktu sebagai kuli ngambat ini sangat percaya dapat menuntut ilmu ke Perancis.

Maka malam itu, ketika membaca tentang teori Psikologi Individual Alfred Adler yang membahas tentang fiksionalisme, ingatan saya langsung tertuju pada sosok Arai. Arai, Sang Pemimpi cocok untuk menjadi contoh dalam teori ini.

Menurut Adler, persepsi subjective seseorang membentuk perilaku dan kepribadian mereka. Manusia berjuang untuk meraih keunggulan ataupun keberhasilan untuk mengganti perasaan inferior. Akan tetapi, sikap mereka ini tidak ditentukan oleh kenyataan melainkan oleh persepsi akan kenyataan.  Sikap mereka di tentukan oleh fiksi mereka, harapan masa depan mereka.
 Gagasan Adler tentang fiksi ini menjadi menarik karena hal ini berbeda dengan gagasan yang diajukan oleh Sigmund Freud. Bagi Freud, pengalaman masa lalu seseorang memotivasi perilaku yang muncul saat ini. Sebaliknya bagi Adler, perilaku manusia dimotivasi oleh persepsi mereka saat ini tentang masa depan. Adler melihat manusia sebagai sosok yang lebih positif yang tidak semata-mata dikendalikan oleh masa lalu.

Seberapa pun tidak menyenangkannya pengalaman masa kecil Arai (menjadi anak sebatang kara sejak kelas SD), perilakunya sepanjang cerita “Sang Pemimpi” dimotivasi oleh persepsinya tentang masa depan, tentang impian-impian gilanya. Pada akhirnya, Arai mendapatkan apa yang ia impikan. Apakah mudah untuknya? Tentu saja tidak. Ia menumpuh jalan yang berliku, untuk sampai di sana. Namun ada yang tidak berubah, ia tidak pernah berhenti percaya bahwa ia mampu meraih impiannya. Karena itu, ia juga tidak pernah berhenti berusaha.

Mungkin kita perlu mengambil waktu sejenak dan memikirkan seperti apa persepsi kita tentang masa depan. Seberapa buruk pun masa lalu kita, seberapa tidak menyenangkannya situasi yang dihadapi saat ini, tidak ada untungnya untuk membayangkannya masa depan yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, tidak ada ruginya untuk mempercayai bahwa keadaan dapat berubah, bahwa impian yang terlihat mustahil pun dapat dicapai. Apa yang kita percayai, menentukan tindakan dan perilaku kita saat ini.

Saya sendiri ketika menemui hambatan, sejujurnya pernah memikirkan dan meragukan, apakah saya bisa mendapatkan apa yang saya impikan? Memikirkannya berulang-ulang menumbuhkan perasaan pesimis dalam diri saya. Akibatnya, bahkan sebelum masa depan yang mengerikan itu datang, saya sudah menderita dengan pikiran saya sendiri. Hal-hal yang saya kerjakan menjadi berantakan dan sepertinya saya semakin mendekati kegagalan. Saya tidak ingin seperti itu lagi. Mendahului nasib, membuat hidup saya lebih menderita bahkan sebelum masa depan itu tiba.

Mari membenahi persepsi kita tentang masa depan J

Jakarta, 20 Desember 2014.
Iffah Rufaidah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar